Thursday, January 6, 2011

LAPORAN SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA


LAPORAN PRAKTIKUM KERJA LAPANGAN
SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA
CLASSIS AVES DAN MAMALIA
DI KEBUN BINATANG GEMBIRA LOKA
    YOGYAKARTA, 28 NOVEMBER 2010










Disusun Oleh :
Kelompok 4
1.             Rina Mawaddatur Roziyana        (A.420080030)
2.             Sri Maryani                                   (A.420080031)
3.             Anisur Rafiq                                 (A.420080032)
4.             Sri Wahyuningsih                         (A.420080033)
5.             Dhian Prastikawatik                     (A420 080 034)
6.             Leny Dwi Asih                             (A420 080 035)
7.             Ibnu Affarudin                             (A420 080 036)
8.             Linda Lestari                                (A420 080 037)

LABORATORIUM BIOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
HALAMAN PENGESAHAN

Kelompok : 4
Anggota     :
1.             Rina Mawaddatur Roziyana     (A.420080030)
2.             Sri Maryani                                (A.420080031)
3.             Anisur Rafiq                              (A.420080032)
4.             Sri Wahyuningsih                      (A.420080033)
5.             Dhian Prastikawatik                  (A420 080 034)
6.             Leny Dwi Asih                          (A420 080 035)
7.             Ibnu Affarudin                          (A420 080 036)
8.             Linda Lestari                             (A420 080 037)

Telah melakukan PKL Classis Aves dan Mamalia untuk melengkapi Latihan IV dan V pada Mata Praktikum Sistematika Hewan Vertebrata, dengan nilai Laporan ..............


                                                                                    Surakarta, Desember 2010
                                                                                    Dosen Praktikum/Asisten



                                                                            (......................................)





KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktek kerja lapangan Sistematika Hewan Vertebrata ini dengan lancar. Laporan ini penulis susun berdasarkan pengamatan secara langsung di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.
Laporan Praktek Kerja Lapangan ini kami susun secara sistematis dan relefan mengenai ciri-ciri dari Classis Aves dan Mammalia sehingga mempermudah dalam mempelajarinya sekaligus mengidentifikasinya.
Dengan terselesaikannya laporan praktek kerja lapangan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun laporan praktek kerja lapangan ini, antara lain :
1.      Dra. Hariyatmi, M.Si selaku dosen Sistematika Hewan Vertebrata.
2.      Dwi Setyo Astuti, M.Si dan Ika Rahmawati, M.Si selaku dosen pengampu mata praktikum Sistematika Hewan Vertebrata.
3.      Asisten Sistematika Hewan Vertebrata yang telah membimbing dan menuntun jalannya praktikum di lapangan serta membantu dalam pembuatan praktikum.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam upaya penyusunan laporan praktek kerja lapangan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan laporan praktek karja lapangan ini.

  Surakarta,  Desember 2010



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................   i
HALAMAN PENGESAHAN  ....................................................................... ii
DAFTAR ISI  .................................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN  ............................................................................ 1
A.  LATAR BELAKAG......................................................................         
B.   TUJUAN  ...................................................................................... 1
BAB II. ISI ..................................................................................................... 2
A.   CLASSIS AVES............................................................................ 2
1.      Pelikan (Pelecanus conspicidatus) ..........................................
2.      Kasuari gelambir dua (Casuarius casuarius) ..........................
3.      Mambruk (Gaura victoria) .....................................................
4.      Macau (Ara macau) ................................................................
5.      Kakatua (Cacatua sulpurea) ..................................................
B.   CLASSIS MAMMALIA.............................................................
1.      Banteng (Bos sondaicus) ........................................................
2.      Tapir Brazil (Tapirus terrastris)...............................................
3.      Babi hutan (Sus scrofa)...........................................................
4.      Rusa Jawa (Cervus timorensis)................................................
5.      Kijang (Muntiacus muntjak)....................................................
6.      Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris).................................
7.      Zebra (Equus zebra)................................................................
8.      Unta Punuk Satu (Camelus dromedaries)...............................
9.      Gajah (Elephas maximus)........................................................
10.  Beruang Madu (Helarctos malayanus)...................................
BAB III. PEMBAHASAN .............................................................................
BAB IV. PENUTUP  ......................................................................................
A.    KESIMPULAN ............................................................................
B.     SARAN ........................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Dalam biologi hewan diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu hewan bertulang belakang dan hewan tanpa tulang belakang. Hewan yang bertulang belakang disebut Vertebrata, sedangkan hewan tanpa tulang belakang disebut Invertebrata. Dalam hal ini kami akan membahas tentang vertebrata khususnya dalam Classis Aves dan Mammalia.
Kerajaan binatang memiliki beberapa tingkatan untuk membagi hewan-hewan yang terdapat di muka bumi ini. Tingkatan tertinggi pada kerajaan binatang tersebut adalah mamalia. Pada umumnya, semua jenis mamalia memiliki rambut yang menutupi tubuhnya. Jumlah rambut tersebut berbeda-beda antara spesies yang satu dengan yang lain. Ada spesies yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut dan ada pula spesies yang hanya memiliki rambut di tempat-tempat tertentu pada bagian tubuhnya.
Mamalia merupakan hewan yang bersifat homoioterm atau sering disebut hewan berdarah panas. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sebutan mamalia sendiri berasal dari keberadaan glandula (kelenjar) mamae pada tubuh mereka yang berfungsi sebagai penyuplai susu. Seperti yang kita ketahui bahwa mamalia betina menyusui anaknya dengan memanfaatkan keberadaan kelenjar tersebut. Walaupun mamalia jantan tidak menyusui anaknya, bukan berarti mereka tidak memiliki kelenjar mamae. Semua mamalia memiliki kelenjar mamae , tetapi pada mamalia jantan kelenjar ini tidaklah berfungsi sebagaimana pada mamalia betina.
Aves merupakan kelas dalam kingdom animalia. Aves memiliki ciri-ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka bisa terbang. Hal ini merupakan keunikan tersendiri dari kelompok hewan tersebut. Aves memiliki beberapa karakteristik yaitu tubuh terdiri atas 4 bagian (kepala, leher, badan, dan ekor), tungkai (ekstremitas depan) bermodifikasi menjadi sayap untuk terbang, ekstremitas belakang berdaptasi untuk hinggap, berjalan, dan berlari. Masing-masing kaki memiliki 4 jari-jari, tubuh tertutup oleh bulu.
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya.
Hal yang melatarbelakangi pengamatan yang telah kita lakukan di Kebun Binatang Gembira Loka yang terletak di Yogyakarta mengenai Aves dan Mammalia pada khususnya adalah untuk mengagumi ciptaan Allah SWT, mengetahui berbagai macam spesies Aves dan Mammalia dengan mengidentifikasi masing-masing spesies yang dapat dilakukan dengan mempelajari anatomi kerangkanya maupun morfologinya yang nantinya kita dapat membuat klasifikasi dari masing-masing spesies tersebut.
Ciri morfologi pada Aves yang dapat kita amati diantaranya bulu, paruh, sayap, kaki, jari, cakar, dan ekor. Sedangkan ciri morfologi pada classis Mammalia yang dapat kita amati adalah pola warna, ukuran tubuh, dan glandula mammae. Manfaat dari pengklasifikasian tersebut adalah untuk mengetahui ciri-ciri, hubungan kekerabatan, interaksinya dilingkungan, mengetahui sifat-sifat unggul makhluk hidup dengan lingkungannya dapat dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang nantinya memberikan manfaat bagi manusia.
B.     TUJUAN
1.      Mempelajari bagian- bagian luar tubuh aves yang paling penting untuk diidentifikasi.
2.      Menegenal ciri-ciri mammalia  yang penting untuk diidentifikasi.























BAB II
LANDASAN TEORI

Kimball (1999), menyatakan bahwa ciri-ciri umum vertebrata adalah memiliki tubuh yang simetri bilateral dengan pembagian tubuh yang terdiri atas: kepala, leher, badan, dan ekor. Meskipun ada yang tidak berleher dan ada yang tidak berekor. Memiliki susunan ruas tulang belakang (kolumna vertebralis) dan memiliki otak di dalam kranium. Ciri lain pada hewan vertebrata adalah tubuh simetri bilateral dengan sistem alat tubuh yang beruas-ruas. Mempunyai endoskeleton (rangka dalam) dengan ruas tulang belakang sebagai penguat kerangka tubuh, dimana pada kerangka melekat otot-otot kerangka. Kulit berlapis-lapis, terdiri atas epidermis (kulit bagian luar), dan dermis (kulit bagian dalam). Otak terletak di kepala terlindung tulang-tulang tengkorak. Mempunyai selom (rongga tubuh) yang dindingnya dilapisi selaput peritoneum.
Jasin (1989), menyatakan bahwa mammalia adalah kelompok tertinggi derajatnya dalam dunia hewan. Hampir semua tubuhnya tertutup dengan kulit yang berambut banyak atau sedikit. Sebutan mamalia berdasar adanya kelenjar mamae pada hewan betina untuk menyusui anaknya yang masih muda. Tubuhnya diisolasi oleh pembungkus (bulu/rambut dan sub cutan yang berlemak). Warna rambut tergantung pada butir- butir pigmen yang terdapat dalam cortex (hitam, coklat, merah, dan kuning). Warna biru disebabkan karena kombinasi efek pigmen dan gejala interferensi sinar dari cortex cuticula.
Brotowidjoyo (1994), menyatakan bahwa mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutup rambut, mempunyai kelenjar mamae (air susu) yang tumbuh baik. Anggota gerak depan pada mamalia dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang, berenang dan terbang. Pada jari- jarinya terdapat kuku, cakar, atau teracak. Pada kulit terdapat banyak kelenjar minyak dan keringat.
Soemadji (1996), menyatakan bahwa aves merupakan hewan yang menarik. Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh kelas vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptil serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papila dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epedermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk filikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis bagian luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bulu yang halus, sedangkan epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan.
Rustaman (1994), menyatakan bahwa ciri khas dari kelas mammalia adalah menyusui anaknya dan mempunyai rambut. Kebanyakan hewan menyusui adalah hewan darat, walaupun ada pula yang hampir sepanjang hidupnya terdapat dalam air. Hewan menyusui biasanya berdarah panas, biasanya mempunyai dua pasang anggota badan, yaitu dua pasang kaki, atau sepasang kaki dan sepasang sayap,  atau sepasang kaki dan sepasang tangan. Pada ujung-ujung jarinya mungkin terdapat kuku, telapak (tracak), atau cakar. Ukuran tubuh hewan menyusui beraneka ragam. Suhu yang yang amat dingin di dekat kutub maupun yang amat panas gurun pasir tidak merupakan halangan bagi beberapa macam hewan menyusui.
Linaeus (1758), menyatakan bahwa burung memiliki warna dan bentuk yang berbeda-beda, ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain, ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.
Ali (2008), menyatakan bahwa mammalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya. Selain itu, mammalia dicirikan adanya rambut dan tubuh yang endoterm (berdarah panas). Ciri-ciri mammalia antara lain adalah memiliki saraf tunjang, bertulang belakang, mempunyai jantung yang beruang empat, badan ditutupi oleh rambut, memiliki telinga, mempunyai kelenjar keringat, Mamalia betina melahirkan dan menyusukan anak, kecuali mamalia yang sangat primitif seperti platypus dan trenggiling, bernafas dengan paru-paru, berdarah panas (suhu badan tetap).
Campbell (2004), menyatakan bahwa hampir setiap bagian dari anatomi burung yang khas termodifikasi dalam beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung memiliki struktur internal yang menyerupai sarang lebah, yang membuat mereka kuat namun ringan. Untuk classis Mammalia memiliki rambut, suatu karakteritik penentu seperti bulu terbang pada burung. Sebagian besar Mammalia memiliki metabolisme yang aktif dan merupakan hewan endoterm. Kelenjar mammae yang menghasilkan susu adalah ciri yang membedakan Mammalia dengan yang lain. Semua induk mammalian memberikan makanan seimbang yang kaya akan lemak, gula, protein, mineral, dan vitamin. Sebagian besar mamalia melahirkan anaknya dan bukan ditetaskan.
Walker (1999), menyatakan bahwa mammalia ada yang hidup di darat, di air, atau di pohon-pohon. Pada umumnya vivipar, jumlah anak satu kali melahirkan satu ekor, ada pula yang 3 sampai 8 ekor. Melahirkan anak melalui vagina. Perkembangan embrio didalam rahim merupakan ciri khas mammalia. Banyak pula mammalia yang mempunyai misai atau kumis (rambut-rambut kaku di atas bibir).
Radiopoetra (1996),  menyatakan bahwa mamalia adalah hewan yang memiliki glandula mammae yang menghasilkan air susu yang diberikan pada anaknya sebagai minuman pertama setelah lahir. Mamalia juga termasuk manusia atau Homo sapiens. Homo sapiens memilki sepasang glandula mammae dan terdapat pada dinding ventral thorax.
Hickman (2003), menyatakan burung merupakan hewan bersayap, berkaki dua, berdarah panas dan bertelur dalam kumpulan hewan vertebrata yang besar dan terdapat di dunia, dari kawasan gurun sampai di kutub utara, juga di kawasan hutan hujan Amazon, dan Greenland. Terdapat lebih daripada 8,600 spesies burung yang telahpun dikenalpasti yang dibahagikan kepada 27 order. Selain itu, terdapat banyak subspesies yang jika dikira berserta dengan spesies yang diketahui mengandungi lebih 3200 jenis.
Kardong (2002), menyatakan bahwa burung merupakan homoioterma, berdarah panas, dengan suhu tetap 40-44 °C. Tulang burung adalah ringan dan berongga di kebanyakan tempat untuk mengurangkan ketumpatan dan beratnya. Semua burung mempunyai paruh, yang berbeda hanyalah bentuk dan saiz paruh mereka. Kebanyakan burung mempunyai bulu pelepah kecuali sedikit yang tidak mempunyai bulu pelepah. Burung dipercayai berevolusi daripada reptilia, seperti dinosaur, yang hidup kira-kira 180 juta tahun yang lampau. Burung berubah dan kehilangan gigi dan ciri reptilia yang lain, samasa mengalami proses evolusi yang mengambil masa berjuta-juta tahun. Pada masa yang sama, bulu pelepah tumbuh pada ekornya dan sayapnya. Ciri-ciri utama burung adalah seperti berikut :
1.       Badan dilitupi oleh bulu pelepah.
2.       Mempunyai paruh yang tidak bergigi dan dua kepak.
3.       Mempunyai sisik pada kakinya.
4.       Bertelur dan telurnya dilindungi oleh cangkerang keras.
5.       Bernafas melalui paru-paru
6.       Berdarah panas.
Kant (2001), menyatakan bahwa walaupun kebanyakan burung mampu terbang terdapat beberapa spesies yang tidak mampu terbang seperti burung unta, rea, emu, kiwi dan penguin yang tidak dapat terbang. Kesemua burung mempunyai sayap walaupun pada burung yang tidak dapat terbang, sungguhpun ia mungkin kecil dan tidak berguna. Burung adalah oviparous yaitu bertelur. Pada kebiasaannya burung betina akan mengeram telur, kadang kala kedua pasangan akan bergilir, dan dalam sesetengah spesies burung hanya burung jantan akan mengeramkan telur tersebut. Terdapat juga spesies burung yang bertelur dalam sarang burung lain untuk dieramkan oleh keluarga burung angkat.



























BAB III
ISI
A.    CLASSIS AVES
1.      Pelikan (Pelecanus conspicidatus)
a.       Nama Lokal                   : Pelikan
Nama Ilmiah                  : Pelecanus conspicidatus
b.      Nama Pengambila Data : Anisur Rafiq (A.420080032)
c.       Gambar
d.      Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum
               : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
classis
                : Aves
Ordo
                  : Pelecaniformes
Famili                 : Pelecanidae
Genus
                 : Pelecanus
Spesies
               : Pelecanus conspicidatus

e.       Deskripsi
1)      Habitat
Pelecanus conspicidatus hidup di peraira dan bersarang di pepohonan, namun mereka mencari makan di perairan, seperti di laut, rawa dan sungai.
2)      Morfologi
Pelecanus conspicidatus adalah burung yang memiliki kantung di bagian bawah paruhnya. Burung Pelikan adalah perenang yang hebat dan mempunyai selaput di kakinya. Burung ini memiliki paruh yang panjang lurus dan berkantung, mempunyai bulu menyeluruh, memiliki sayap yang panjang, jari rata berjumlah 4 (3 di depan, 1 dibelakang), cakar runcing dan lurus, kaki berselaput  pelajan, dan ekor yang pendek.
3)      Ciri spesifik
Pelecanus conspicidatus adalah burung yang memiliki kantung di bagian bawah paruhnya.
4)      Perilaku
Pelecanus conspicidatus menangkap mangsa dengan memperbesar kantung paruh mereka. Lalu mereka harus mengeringkan kantung tersebut sebelum menelan. Hal ini memakan waktu satu menit, dan burung kecil lainnya dapat mencuri ikan tersebut di waktu itu.
5)      Reproduksi
Pelecanus conspicidatus termasuk dalam ovipar yang behasilkan telur, bersarang secara berkoloni. Pelikan memiliki kehidupan sosial yang rumit, sekelompok jantan mengejar satu pelikan betina di udara, di darat, atau di air dengan saling menunjuk atau menyentuhkan paruh mereka satu sama lain. Proses ini dapat diselisaikan dalam satu hari. Kopulasi berlangsung segera setelah mendapatkan pasangan dan berlanjut selama 3 hingga 10 hari sebelum telur dikeluarkan. Pelikan jantan membawakan material pembuat sarang lalu pelikan betina membentuk struktur sarang yang simpel dari material tersebut.
6)      Makanan
Makanan Pelecanus conspicillatus biasanya adalah ikan, namun mereka juga biasanya memakan amfibi, crustacea dan dalam beberapa kasus mereka juga memakan burung kecil.















2.      Kasuari Gelambir Dua (Casuarius casuarius)
a.       Nama Lokal                   : Kasuari Gelambir Dua
Nama Ilmiah                  : Casuarius casuarius
b.      Nama Pengambil Data   : Sri Wahyuningsih (A.420080033)
c.       Gambar 
d.      Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum               : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Aves
Ordo                  : Columbiformes
Famili                 : Columbidae
Genus                 : Casuaria
Spesies               : Casuaria casuaria





e.       Diskripsi
1)      Habitat
Casuaria casuaria habitat di hutan hujan tropis di Irian dan sekitarnya. Tempat pemuimannya membentang sampai hutan-hutan sabana.
2)      Morfologi   
Casuaria casuaria dapat mencapai tinggi 1,80 m apabila berdiri tegak. Bulunya hampir hitam dan mengkilap. Sayapnya telah mengalami reduksi sehingga burung ini tidak bisa terbang. Bulu lengkap, paruh pendek lurus, jari berjumlah 3 berada didepan semua. Cakar runcing lurus, kaki tipe berjalan, ekor pendek bulat.
3)      Ciri Spesifik           
Casuaria casuaria kepala dihiasi dengan sisir pipih mirip tanduk berwarna kecoklatan, setinggi 15 cm dari tempurung kepalanya. Spesies ini memiliki dua gelambir besar panjang sekitar 12 cm, bergantung dilehernya. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan biasanya berukuran lebih besar dan lebih dominan.
4)      Perilaku
Casuaria casuaria Burung Kasuari biasa hidup sendiri, dan berpasangan hanya pada saat musim kawin saja. Anak burung dierami oleh Kasuari jantan. Biasanya kasuari hanya berjalan-jalan dan berlari-lari.
5)      Reproduksi
Casuaria casuaria termasuk ovipar. Bertelur pada awal bulan mei keatas. Pengeramannya berlangsung selama 7 minggu, jantan mengerami telur. Sekali berbiak menghasilkan 3-8 butir telur.
6)      Jenis Makanan       
Casuaria casuaria buah-buahan yang jatuh dari pohon
3.      Mambruk (Goura victoria)
a.       Nama Lokal                   : Mambruk
Nama Ilmiah                  : Goura victoria
b.      Nama Pengambil Data   : Rina Mawaddatur R  (A.420080030)
c.       Gambar
d.      Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phylum               : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : aves
Ordo                  : Columbiformes
Familia               : Columbidae
Genus                 : Gaura victoria
Spesies               : Gaura victoria
e.       Diskripsi
1)      Habitat
Gaura victoria tersebar di hutan dataran rendah, hutan sagu dan hutan rawa di bagian utara pulau Irian, yang juga termasuk pulau Yapen, pulau Biak, dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Burung Mambruk Victoria bersarang di atas dahan pohon.
2)      Morfologi
Gaura victoria Burung mambruk memiliki ciri-ciri morfologi yaitu bulunya menyeluruh keseluruh tubuh, paruhnya pendek runcing, sayapnya panjang membulat, bentuk jari rata dengan struktur 4 buah yaitu 3 didepan dan 1 dibelakang, bentuk cakar runcing, lurus. Jenis kaki pejalan dan petengger. Kemudian ekornya pendek, rata.
3)      Ciri Spesifik
Gaura victoria Burung Mambruk Victoria berukuran besar, dengan panjang mencapai 74 cm, dan memiliki bulu berwarna biru keabu-abuan, jambul seperti kipas dengan ujung putih, dada merah marun keunguan, paruh abu-abu, kaki merah kusam, dan garis tebal berwarna abu-abu di sayap dan ujung ekornya. Di sekitar mata terdapat topeng hitam dengan iris mata berwarna merah. Burung jantan dan betina serupa.
4)      Perilaku
Gaura victoria bersarang di atas dahan pohon. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting dan dedaunan. Burung betina biasanya menetaskan sebutir telur berwarna putih.
5)      Reproduksi
Gaura victoria berkembang biak dengan bertelur (ovipar). Bertelur pada awal bulan mei keatas. Pengeramannya berlangsung selama 7 minggu, jantan mengerami telur. Sekali berbiak menghasilkan teur 3-8 butir telur.
6)      Makanan
Gaura victoria mencari makan di atas permukaan tanah. Pakan burung Mambruk Victoria terdiri dari aneka biji-bijian dan buah-buahan yang jatuh di tanah. Spesies ini biasanya hidup berpasangan atau dalam kelompok.
4.      Macau (Ara macau)
a.       Nama Lokal                   : Macau
Nama Ilmiah                  : Ara macau
b.      Nama Pengambil Data   : Sri maryani (A.420080031)
c.       Gambar
d.      Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphyllum        : Vertebrata
Classis                : Aves
Ordo                   : Psittaciformes
Familia               : Psittacidae
Genus                 : Ara
Spesies               : Ara macau

e.       Deskripsi
1)      Habitat     
Habitat dari burung macau (Ara macau) adalah dihutan dan di perkebunan.
2)      Morfologi
Ara macau burung ini termasuk burung yang besar dengan ukuran tubuhnya mencapai 60 cm. Mempunyai bulu menyeluruh,warna bulu merah muda, bagian sayap berwarna biru, kuning, hijau. Burung ini mahir memanjat kakinya terdiri dari dua pasang jari 2 didepan dan dua di belakang, yang sepasang menghadap ke depan dan yang dua pasang lagi menghadap ke belakang  jarinya rata. Paruh dari burung macau ini pendek berkait, mempunyai sanyap panjang dan runcing,merupakan burung dengan kaki tipe petengger,ekornya panjang runcing. 
3)      Ciri spesifik
Ara macau mempunyai bulu yang sangat indah warna bulu merah muda, bagian sayap berwarna biru, kuning, hijau. Burung macau ini juga merupakan burung yang mudah adaptasi dengan lingkungan.
4)      Perilaku
Ara macau paling suka memanjat pohon bila di dalam kandang burung ini suka memanjat teralis kandang dan memegang dahan pohon dengan paruhnya. Di alam burung ini dapat merusak dahan-dahan kecil karena dipatahkan dengan paruhnya.
5)      Reproduksi
Ara macau bereproduksi dengan bertelur (ovipar), bersarang di lubang pohon dan melekatkan telurnya sejumlah 2-4 butir.
6)      Makanan
Ara macau makanannya adalah biji-bijian, buah-buahan, kacang-kacangan, dan juga sayur-sayuran.


5.      Kakatua (Cacatua sulpurea)
a.       Nama Lokal                   : Kakatu
b.      Nama ilmiah                   : Cacatua sulpurea
c.       Nama pengambil data    : Sri maryani
d.      Gambar
e.       Klasifikasi
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub Phyllum       : Vertebrata
Classis                : Aves
Ordo                   : Psittaciformes
Familia               : Psittacidae
Genus                 : Cacatua
Spesies               : Cacatua sulpurea

f.       Deskripsi:
1)      Habitat
Cacatua sulphurea menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan juga hutan Monsun (Nusa Tenggara).
2)      Morfologi
Cacatua sulphurea memiliki bulu berwarna putih yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, paruh berkait berfungsi untuk mengupas biji-bijian dan memakan serangga kecil, sayap panjang berfungsi untuk terbang, jari yang terangkat dengan cakar yang runcing, untuk bertengger pada dahan atau ranting pada pohon, tipe kaki bertengger.
3)      Ciri Spesifik
Cacatua sulphurea merupakan burung hias yang memiliki bulu yang indah, suaranya nyaring dan termasuk burung yang mempunyai kecerdasan yang cukup bagus serta berumur panjang hingga mencapai 60 tahun.
4)      Perilaku
Cacatua sulphurea Kebiasaan di kandang dari burung kakak tua yang mempunyai nama ilmiah Cacatua sulpurea adalah menirukan suara-suara dari manusia misalnya seperti asalamualaikum selamat pagi dan yang lain sebagainya, menggerak-gerakan kepala mengikuti arah jari manusia yang menggoda burung itu.
5)      Reproduksi
Cacatua sulphurea berkembangbiak dengan cara bertelur (ovipar). Menetaskan 2-3 telur dalam sarangnya di lubang pohon. Masa kehamilan sekitar 103 hari.
6)      Makanan
Cacatua sulphurea Hewan ini akan mencari tempat yang dimana tempat tersebut banyak ditumbuhi oleh tumbuhan yang berbiji. Jenis makanannya adalah biji – bijian serta serangga kecil termasuk hewan omnivore.



B.     CLASSIS MAMMALIA
1.      Banteng (Bos sondaicus)
a.       Nama ilmiah                   : Bos sondaicus
Nama Lokal                   : Banteng
b.      Nama pengambil Data   :
1)      Dhian Prastikawatik          A420 080 034
2)      Leny Dwi Asih                 A420 080 035
3)      Ibnu Affarudin                 A420 080 036
4)      Linda Lestari                     A420 080 037
c.       Gambar                         
d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Artiodactyla
Familia               : Bovidae
Sub familia         : Bovinae
Genus                 : Bos
Spesies               : Bos sondaicus
e.       Diskripsi                                    
1)        Habitat
Bos sondaicus, satwa ini menyukai topografi yang rata atau sedikit bergelombang, dengan hutan yang tidak begitu lebat dan lapangan terbuka yang berumput atau berumpun bamboo. Ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali.
2)        Morfologi
Bos sondaicus memiliki pola warna tubuh yaitu coklat kemerahan pada bagian dorsal dan coklat dibagian ventral. Ukuran tubuhnya besar dengan glanmdula mammae di bagian pelvis.
3)        Ciri spesifik
Bos sondaicus satwa ini mempunyai bentuk dan ukuran mirip sapi peliharaan, beberapa ciri yang membedakan yaitu antara lain warna mantel rambut yang betina selalu coklat kemerahan dan jantan dewasa berwarna hitam, baik jantan dan betina terdapat warna rambut putih pada pantat dan kaki bagian bawah. Banteng Jantan mempunyai baga dan tanduk selalu menghadap ke depan. Ukuran tubuh panjang 108-200 cm, tinggi pundak 130-170 cm dengan berat tubuh 500-900 kg. Ciri lain yang dimiliki satwa ini tubuh bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang sehingga nampak gagah.
4)        Perilaku
Bos sondaicus hidup di dalam kelompok besar 10-30 ekor, mencari pakan pada pagi dan sore hari. Perilaku seperti merumput, berkubang, menjelajah dan istirahat selalu dilakukan secara berurutan. Jika kelompok banteng terancam bahaya maka seluruh anggota kelompok mengawasi bersamaan pada datangnya bahaya dan tidak segan-segan akan menghadapi dengan gagah berani.
5)        Reproduksi
Bos sondaicus termasuk vivipar. Musim kawin banteng dari lokasi yang berbeda selalu berlainan, di Taman Suaka Margasatwa Ujung Kulon musim kawin pada bulan Juli dan Agustus. Lama bunting 270-280 hari, anak yang dilahirkan selalu 1 ekor. Anak banteng menjadi dewasa setelah berumur 2-3 tahun.
6)        Makanan
Bos sondaicus dilihat dari makanannya mempunyai tipe gigi salendont. Selama musim penghujan satwa ini memakan rebung dan pada waktu musim kemarau menyukai merumput di padang rumput. Di Kebun Binatang  Gembira Loka, diberi pakan berupa pakan berupa rumput, ubi jalar, katul, daun-daunan dan garam yang dicampur merata. Kuantitas pakan 10% dari berat badan untuk setiap harinya.















2.      Tapir Brasil (Tapirus terrastris)
a.       Nama ilmiah                   : Tapirus terrastris
b.      Nama Lokal                   : Tapir Brasil
c.       Nama pengambil Data   :
1)      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2)      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3)      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4)      Linda Lestari                      A420 080 037
d.      Gambar 
e.       Klasifikasi                     
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Perrisodactyla
Familia               : Tapiridae
Genus                 : Tapirus
Spesies               : Tapirus terrastris

f.       Diskripsi                                    
1)        Habitat
Tapirus terrastris dapat ditemukan di dekat air di Amazon Rainforest dan DAS di Amerika Selatan, sebelah timur Andes . Membentang dari Venezuela , Kolombia , dan Guianas di utara ke Brasil , Argentina , dan Paraguay , di selatan, untuk Bolivia , Peru , dan Ekuador di Barat. Hutan tropika, hutan kayu kadang dijumpai di perkebunan.
2)        Morfologi
Tapirus terrastris mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal berwarna hitam dan bagian ventral juga berwarna hitam. Ukuran tubuhnya besar dengan glandula mammae yang terletak dibagian pelvis.
3)        Ciri spesifik
Tapirus terrastris merupakan satwa berkuku ganjil seperti kuda dan badak. Tubuhnya berukuran besar, tinggi bahu 75 sampai 120 cm, panjang 180 sampai 250 cm, ekor 5 sampai 10 cm dengan berat badan sampai 300 kg belalainya kuat meskipun tidak begitu panjang, kaki pendek dan tegak. Kulit tertutup mantel rambut agak kasar dan lunak, warna terbagi dua bagian yaitu hitam dan putih. Pola warna putih pada ujung telinga dan tubuh di bagian belakang menjadikan satwa ini indah jika dilihat. Tubuh yang pendek, serta leher dan ekor pendek juga dengan belalai menghadap ke depan menjadikan satwa ini nampak lucu jika diperhatikan, khususnya saat berjalan
4)        Perilaku
Tapirus terrastris, satwa ini bersifat soliter, tetapi kadang-kadang hidup berpasangan. Bergerak dengan cepat dan jarang dapat terlihat. Satwa ini mencari pakan pada malam hari. Jika menghadapi predator ia akan menghindar dengan cara menghindarkan diri ke dalam semak belukar atau menenggelamkan dirinya ke dalam air. Jika dalam keadaan terdesak maka ada kemungkinan akan menggigit. Teritorianya dibatasi dengan kotoran atau air kencingnya.
5)        Reproduksi
Tapirus terrastris termasuk vivipar, mempunyai waktu reproduksi tergantung dari tempatnya, musim kawin terjadi pada bulan April hingga Mei. Setelah kawin induk tapir bunting selama 390 sampai 395 hari, anak yang dilahirkan 1 ekor dan diasuh hingga 8 bulan. Anak tapir berwarna coklat dengan garis putih melintang.
6)        Makanan
Tapirus terrastris berdasarkan makannya mempunyai tipe gigi lophodont, memakan berbagai jenis tumbuhan yang dimakan seperti daun, akar, ubi-ubian buah dan kadang-kadang dijumpai memakan kulit pohon. Di Kebun Binatang Gembira Loka, diberi pakan berupa rumput gajah, daun tanaman keras, sayuran, ketela rambat cacah, dan bekatul dengan berat 10% darl berat badannya.












3.      Babi hutan (Sus scrofa)
a.       Nama ilmiah                   : Sus scrofa
b.      Nama Lokal                   : Babi Hutan
c.       Nama pengambil Data   :
1)      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2)      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3)      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4)      Linda Lestari                      A420 080 037
d.      Gambar             
e.       Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Artiodactyla
Familia               : Suidae
Genus                 : Sus
Spesies               : Sus scrofa


f.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Babi hutan hidup di semak belukar dan hutan, juga dapat dijumpai di lingkungan yang kering; di wilayah Asia Tenggara.
2)      Morfologi
Sus scrofa mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal berwarna abu- abu,pada kepala terdapat bulat coklat kekuningan,  dan bagian ventral berwarna putih. Ukuran tubuhnya besar dengan glandula mammae yang terletak dibagian pelvis.
3)      Ciri spesifik
Sus scrofa berukuran sedang, panjang total tubuhnya 120 sampai 220 dengan berat badan dapat mencapai 150 kg. Tubuhnya nampak ditumbuhi rambut-rambut panjang yang jarang-jarang, kulit berwarna coklat, kepala nampak besar, kurang proporsional jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Lubang hidungnya menghadap ke depan seperti corong dengan dibatasi oleh kulit yang tebal. Taringnya kelihatan menyembul ke samping di bagian depan kepala dan di bagian depan bawah telinga terdapat benjolan. Kaki yang pendek tidak memungkinkan babi hutan bergerak lincah.
4)      Perilaku
Sus scrofa merupakan satwa yang sanggup bertahan hidup pada berbagai macam habitat dan juga dapat bertahan hidup dalam kondisi kekurangan sumber pakan. Satwa ini sering dijumpai hidup berkelompok dalam jumlah antara 20 sampai 30 ekor. Babi hutan jika mencari pakan dilakukan pada waktu sore hari hingga larut malam. Satwa yang sangat agresif ini tidak segan-segan memburu atau melawan adanya gangguan dari binatang lain.

5)      Reproduksi
Sus scrofa termasuk vivipar, matang kelamin setelah berumur 4 tahun, setelah kawin babi hutan betina bunting selama 115 hari dan menabur akan meninggalkan grup untuk membangun seperti sarang gundukan, 1-3 hari sebelum melahirkan . Jumlah anak yang dilahirkan mencapai 10 ekor atau lebih, Di habitatnya babi hutan tahan hidup mencapai umur 20 tahun.
6)      Makanan
Sus scrofa dilihat dari makanannya mempunyai tipe gigi salendont. Jenis pakan di habitat aslinya yaitu antara lain dari berbagai jenis tumbuhan, umbi-umbian, cacing, bekicot,kepiting dan lain-Iain. Di Kebun Binatang Gembira Loka, Babi Hutan diberi pakan berupa sayur-sayuran, umbi-umbian yang berupa ketela rambat dicacah dan bekatul yang dicampur hingga rata.















4.      Rusa Jawa (Cervus timorensis)
a.       Nama ilmiah                   : Cervus timorensis
Nama Lokal                   : Rusa Jawa
b.      Nama pengambil Data   :
1)      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2)      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3)      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4)      Linda Lestari                      A420 080 037
c.       Gambar             

d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Artiodactyla
Familia               : Cervidae
Sub familia         : Cervinae
Genus                 : Cervus
Spesies               : Cervus timorensis
e.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Cervus timorensis habitat di hutan tropika, savanna di wilayah Jawa, diinduksikan ke Australia, Selandia Baru, Fiji dan Papua Nugini. Menempati hutan gugur daun campuran terbuka dan kering, taman, dan sabana.
2)      Morfologi
Cervus timorensis mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal berwarna coklat, dan bagian ventral berwarna coklat muda. Ukuran tubuhnya besar (40-45 kg), dengan glandula mammae yang terletak dibagian pelvis.
3)      Ciri spesifik
Cervus timorensis berukuran sedang yaitu panjang tubuh 98 sampai 111 cm dengan berat badan 45 sampai 50 kg, yang jantan mempunyai ranggah bercabang tiga. Satwa ini tubuhnya tertutup mantel rambut berwarna coklat  kemerahan, dibagian tertentu seperti leher, kaki bawah dan pantat berwarna agak cerah. Telinga sepasang berukuran besar menghadap ke depan. Ekor pendek, jika diperhatikan dengan cermat dibagian leher bawah setiap individu, Rusa mempunyai guratan pada rambut yang berbeda satu sama lainnya. Rambut-rambut ini tidak pernah mulus, bahkan sering nampak belang-belang.
4)      Perilaku
Cervus timorensis menyukai hidup berkelompok, di dalam kelompok ini  terdapat beberapa rusa jantan, rusa betina dan anak-anak. Kelompok rusa dipimpin oleh rusa betina yang paling tua, yang berperan memberikan informasi  kepada kelompoknya seperti jika ada bahaya, supaya dapat menghindar. Jika dalam keadaan terpaksa karena ancaman maka rusa jantan yang paling kuat yang akan menghadapinya.

5)      Reproduksi
Cervus timorensis termasuk vivipar, masa perkawinan dilakukan oleh rusa jantan, dominan terhadap betina-betina anggota kelompoknya. Musim kawin pada bulan Juni sampai Juli, lama bunting 8 bulan, anak yang dilahirkan biasanya 1 ekor dan diasuh induknya hanya beberapa bulan.
6)      Makanan
Cervus timorensis berdasarkan jenis makanannya mempunyai tipe gigi salendont. Habitat aslinya rusa ini memakan berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, biji dari jenis-jenis tanaman tertentu. Di Kebun Binatang Gembira Loka diberi pakan berupa rumput kolonjono dan juga diberikan kacang-kacangan dengan kuantitas berat pakan 10% dari berat badannya.
















5.      Kijang (Muntiacus muntjak)
a.       Nama ilmiah                   : Muntiacus muntjak
b.      Nama Lokal                   : Kijang
c.       Nama pengambil Data   :
1.      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2.    Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3.      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4.      Linda Lestari                      A420 080 037
d.      Gambar             
e.       Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Subphylum         : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Artiodactyla
Sub ordo                        : Ruminantia
Familia               : Cervidae
Sub familia         : Muntiacinae
Genus                 : Muntiacus
Spesies               : Muntiacus muntjak
f.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Muntiacus muntjak, habitatnya di hutan tropika hingga mencapai ketinggian 2000 m dari permukaan laut; di wilayah India, Indonesia ke timur sampai Jawa, dijumpai di Cina sampai Taiwan.
2)      Morfologi
Muntiacus muntjak mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal berwarna coklat, dan bagian ventral berwarna coklat muda. Ukuran tubuhnya besar (35kg), dengan glandula mammae yang terletak dibagian pelvis.
3)      Ciri spesifik
Muntiacus muntjak  mempunyai ciri-ciri spesifik yang menunjukkan perbedaan dengan jenis lainnya. Berukuran tubuh sedang panjang tubuh termasuk kepala 89-135 cm, panjang ekor 12-23 cm, tinggi bahu 40-65 cm dengan berat mencapai 35 kg. Mantel rambut pendek, rapat, lembut dan licin, warna bervariasi dari coklat gelap hingga coklat tetang. Pada bagian tertentu seperti tungkai depan dan muka berwarna hitam. Kijang jantan mempunyai ranggah pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar. Anak.anak kijang mantel rambut kadang-kadang bertotol.    
4)      Perilaku
Muntiacus muntjak  yang bergerak akan mengeluarkan suara yang berderak-derak, suara tersebut dimungkinkan keluar dari gigi taringnya. Gigi taring dimanfaatkan untuk mempertahankan diri. Jika sedang gelisah, terkejut atau memanggil kijang lainnya akan mengeluarkan suara seperti gonggongan anjing oleh karena itu satwa ini diberi nama barking deer. Jika melarikan diri kijang nampak merunduk dengan bagian tubuh belakang meninggi.

5)      Reproduksi
Muntiacus muntjak termasuk vivipar, seksual betina dewasa selama pertama mereka untuk tahun kedua kehidupan. Betina ini polyestrous , dengan setiap siklus berlangsung sekitar 14 sampai 21 hari dan estrus berlangsung selama 2 hari. Periode kehamilan adalah enam sampai tujuh bulan dan mereka biasanya menanggung anak pada suatu waktu tapi kadang-kadang menghasilkan kembar. Betina biasanya melahirkan pertumbuhan padat sehingga mereka tersembunyi dari sisa kawanan dan predator. Kaum muda daun ibunya setelah sekitar enam bulan untuk membentuk wilayahnya sendiri. Laki-laki sering berperang antara satu sama lain untuk memiliki sebuah harem perempuan. Muntjacs India dibedakan dari lainnya ungulates dalam menunjukkan tidak ada bukti musim pembiakan khusus dalam spesies.
6)      Makanan
Muntiacus muntjak berdasarkan jenis makanannya mempunyai tipe gigi salendont. Mencari pakan pada siang hari hingga malam hari, berbagai jenis pakan yaitu antara lain berbagai jenis rumput yang daunnya masih muda, daunan muda, biji-bijian dan bagian lain seperti kulit. Di Kebun Binatang Gembira Loka, diberi pakan sayuran, rumput gajah, rendeng, bekatul dan ketela rambat yang dicampur, berat pakan yang diberikan 10% dari berat badannya.






6.      Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris)
a.         Nama ilmiah                   : Hydrochoerus hydrochaeris
b.        Nama Lokal                   : Capybara
c.         Nama pengambil Data   :
1)        Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2)        Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3)        Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4)        Linda Lestari                      A420 080 037
d.      Gambar                         
e.       Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub phylum        : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Rodentia
Sub ordo                        : Hystricomorpha
Familia               : Caviidae
Sub familia         : Hydrochoerinae
Genus                 : Hydrochoerus
Spesies               : Hydrochoerus hydrochaeris

f.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Hydrochoerus hydrochaeris habitatnya di padang rumput terbuka, selalu di tepian sungai, juga di habitat lain dari berbagai variasi di dalam hutan tropika basah; di wilayah Amerika Selatan. Di hutan daerah dekat badan air, seperti danau, sungai, rawa, kolam dan rawa-rawa, serta banjir savana dan di sepanjang sungai di hutan tropis . Mereka berkeliaran di rumah berkisar dari 25-50 hektar (10-20 ha).
2)      Morfologi
Hydrochoerus hydrochaeris mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal dan ventral berwarna coklat muda. Ukuran tubuhnya besar dengan glandula mammae yang terletak dibagian abdomen.
3)      Ciri spesifik
Hydrochoerus hydrochaeris adalah coprophagous , yang berarti mereka makan sendiri tinja sebagai sumber bakteri flora usus dan untuk membantu mencerna dengan selulosa pada rumput yang membentuk diet normal mereka dan ekstrak protein maksimum dari makanan mereka. Selain itu, mereka mungkin memuntahkan makanan untuk mengunyah makanan lagi, mirip dengan kunyahan-mengunyah oleh sapi. Jantan memiliki kelenjar bau di hidungnya  yang digunakan untuk mengolesi aroma tubuhnya di rumput di wilayahnya. Mereka berkomunikasi melalui kombinasi bau dan suara, yang sangat binatang vokal dengan purrs dan gonggongan alarm, peluit dan, klik jeritan dan geraman.

4)      Perilaku
Hydrochoerus hydrochaeris dalam kegiatannya aktif dilakukan pada waktu siang hari jika dalam keadaan tidak diburu. Satwa ini akan berkumpul di dalam kelompok kecil yang mana saat pergi untuk mendapatkan pakan. Kapibara mempunyai kemampuan renang yang sangat baik, dengan bagian tubuh berada di bawah permukaan air sedangkan lubang hidung, mata dan telinganya berada di atas permukaan air.
5)      Reproduksi
Hydrochoerus hydrochaeris  termasuk vivipar, mencapai kematangan seksual dalam waktu 22 bulan dan berkembang biak saat kondisi yang sempurna, yang dapat satu kali per tahun atau sepanjang tahun. Masa kehamilan adalah 130-150 hari dan biasanya menghasilkan empat bayi capybara, tetapi mungkin menghasilkan antara dua dan delapan dalam sampah tunggal. Kelahiran ada di tanah dan betina akan bergabung kembali dengan grup dalam beberapa jam penyampaian baru lahir capybaras, yang akan bergabung dengan grup
6)      Makanan
Hydrochoerus hydrochaeris berdarakan jenis makannya mempunyai tipe gigi lopodont. Pada habitat aslinya Capybara memakan berbagai jenis tanaman air sebagai sumber pakan kadang juga memakan umbi-umbian. Di Kebun Binatang Gembira Loka, Capybara diberi pakan berupa daun-daunan yang tumbuh di tanah, sayuran, rumput dan ketela, berat pakan yang diberikan kurang lebih 10% dari berat badannya.




7.      Zebra (Equus zebra)
a.       Nama ilmiah                   : Equus zebra
Nama Lokal                   : Zebra
b.      Nama pengambil Data   :
1.      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2.      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3.      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4.      Linda Lestari                      A420 080 037
c.       Gambar                         

d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub phylum        : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Perissodactyla
Familia               : Equidae
Genus                 : Equus
Spesies               : Equus zebra

e.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Equus zebra menyukai hidup di savana, hutan terbuka; di sekitar wilayah benua Afrika bagian timur.
2)      Morfologi
Equus zebra mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal dan ventral berwarna belang- belang hitam putih. Ukuran tubuhnya besar (243-357 kg) dengan glandula mammae yang terletak dibagian pelvis.
3)      Ciri spesifik
Equus zebra memilki ciri khas dibandingkan dengan mamalia lainnya yaitu pola tubuhnya bergaris-garis hitam dan putih dan tidak ada dua individu yang terlihat persis sama. Tubuhnya tertutup oleh mantel rambut dengan warna dasar putih dengan pola garis-garis tebal melintang sampai agak membujur  berwarna hitam, hanya bagian tertentu kurang berwarna hitam seperti pada bagian moncong mulut dan rambut-rambut ekor.
4)      Perilaku
Equus zebra menyukai hidup mendekati sumber air, hidup secara  berkelompok dalam jumlah besar sampai ratusan ekor, teristimewa pada musim  panas, dan akan berasosiassi dengan spesies lain sebagai contohnya guanaco. Dua spesies Zebra dan banyak spesies antilop. Mereka akan segera berlari cepat jika melihat adanya predator yang datang dan diketahui oleh salah satu kelompoknya.
5)      Reproduksi
Equus zebra temasuk vivipar, setelah melakukan perkawinan induk betina akan bunting selama kira -kira 1 tahun. Anak yang dilahirkan berjumlah satu ekor dan akan diasuh oleh induknya sampai bisa mandiri. Satwa ini mampu hidup di alam sekitar 25 sampai 30 tahun.
6)      Makanan
Equus zebra berdasarkan makanannya, mempunyai tope gigi lophodont. Pada habitat aslinya sebra memakan berbagai jenis pakan antara lain rumput dan daun-daunan, tetapi sangat menyukai ujung rumput yang masih muda. Di Kebun Binatang Gembira Loka diberi pakan berupa rumput kolonjono, bekatul dan ketela rambat dengan kuantitas berat pakan yaitu 10% dari berat badannya.























8.      Unta Punuk Satu (Camelus dromedaries)
a.       Nama ilmiah                   : Camelus dromedaries
Nama Lokal                   : Unta Punuk Satu
b.      Nama pengambil Data   :
1.      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2.      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3.      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4.      Linda Lestari                      A420 080 037
c.       Gambar
              
d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub phylum        : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Sub Classis         : Theria
Super  Classis     : Eutheria
Ordo                  : Artiodactyla
Sub Ordo           : Tylopoda
Familia               : Camelidae
Genus                 : Camelus
Spesies               : Camelus dromedaries
e.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Camelus dromedaries terdapat di Afrika utara, Arabia dan sebagian kecil Asia. Unta ini telah didomistikasi di benua Australia. sensitif terhadap dingin dan kelembaban, sehingga hanya wajar mereka suka kondisi gurun dengan musim kemarau panjang dan musim hujan singkat.
2)      Morfologi
Camelus dromedaries pada bagian dorsal dan bagian ventral memiliki warna coklat. Memiliki Ukuran tubuh besar, glandula mammae terletak di pelvis.
3)      Ciri spesifik
Camelus dromedaries telah membuat mulitude adaptasi menjadi salah satu mamalia yang hanya mampu mentolerir dan berkembang di padang pasir seperti kondisi. Punuk utama di bagian belakang unta terdiri dari lemak terikat bersama oleh jaringan fibrosa yang bertindak sebagai penyimpanan air untuk saat dibutuhkan selama. Ukuran dari bonggol tergantung unta gizi pada status, menjadi lebih kecil dan condong ke satu sisi kali kelaparan.
4)      Perilaku
Camelus dromedaries menyukai hidup berkelompok, kemampuan jalannya tidak diragukan lagi yaitu mampu menempuh jarak 80 km dalam 1 hari dan dalam 5 hari dapat menempuh jarak 400 km dengan kecepatan rata-rata 4 km/jam. Keistimewaan lainnya adalah memiliki bagian lambung penyimpan air, sehingga tahan tidak minum dalam waktu yang cukup lama. Dalam mempertahankan dirinya unta menggunakan tendangan dan sepakan atau pukulan dan gigitan.


5)      Reproduksi
Camelus dromedaries termasuk vivipar dimanan unta jantan pada musim kawin mengalami pembengkakan pada  beberapa bagian rongga mulutnya. Perkawinan dilakukan pada bulan Februari, lama bunting 390-410 hari. Anak-anak dari induk-induk unta akan diasuh selama 1 tahun, lama hidup dapat mencapai 25 tahun.
6)      Makanan
Camelus dromedaries berdasarkan jenis makanannya mempunyai tipe gigi salendont. Unta menyukai dari jenis-jenis pakan seperti rumput-rumputan dan bagian dari tanaman yang masih muda. Kebun Binatang Gembira Loka berupa rumput kolonjono, daun kacang, ketela rambat, nasi dan katul yang ditambah garam. Kuantitas pakan yang diberikan kira-kira 10% dari berat badannya.
















9.      Gajah Asia (Elephas maximus)
a.       Nama ilmiah                   : Elephas maximus
Nama Lokal                   : Gajah Asia
b.      Nama pengambil Data   :
1.      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2.      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3.      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4.      Linda Lestari                      A420 080 03
c.       Gambar                         
d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub phylum        : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Ordo                  : Proboscidea
Familia               : Elephantidae
Genus                 : Elephas
Spesies               : Elephas maximus


e.       Diskripsi                        
1)      Habitat
Elephas maximus hidup bervariasi dari hutan tropika sampai  perkebunan, dataran rendah,
2)      Morfologi
Elephas maximus mempunyai warna tubuhnya pada bagian dorsal berwar hitam dan ventral berwarna abu-abu. Ukuran tubuhnya besar dengan glandula mammae yang terletak dibagian abdomen.
3)      Ciri spesifik
Elephas maximus mempunyai gading adalah organ yang menakjubkan ketangkasan ekstrim.  Karena gading adalah fitur yang paling penting dari gajah, sehingga dimasukkan dalam ordo  Proboscidea. Gading  ini sangat kuat, yang merupakan alat yang ideal untuk makan.
Gajah menggunakan belalai mereka untuk, antara lain: bernapas melalui, bau dengan, untuk mengambil air minum (bagasi dapat menyimpan 8,5 liter), untuk mengambil daun, buah, dan lain- lain, baik dari pohon atau dari tanah, untuk menutupi diri dengan lumpur, air atau debu, dan untuk berkomunikasi satu sama lain, melalui sentuhan, bau dan produksi suara. Hal ini juga digunakan untuk mengangkat benda dan sebagai senjata.
4)      Perilaku
Elephas maximus secara berkelompok antara 10 sampai 30 ekor yang dipimpin oleh gajah betina yang paling tua. Hidupnya berpindah-pindah untuk mendapatkan pakan. Gajah mempunyai naluri yang baik sehingga mudah untuk  dilatih berbagai macam latihan yang di manfaatkan oleh manusia dan juga sebagai hewan piaraan yang akan dapat membantu aktivitas kehidupan manusia.
5)  Reproduksi
Elephas maximus termasuk vivipar, gajah betina kawin setelah umur sekitar 9 sampai 12 tahun setelah kawin gajah akan bunting  selama 18 sampai 22 bulan dan akan melahirkan anak dengan berat 100 kg. Selang  antara  melahirkan  anak selama 4 tahun.
6)      Makanan
Elephas maximus berdasarkan makanannya mempunyai tipe gigi lophodont. Di habitat aslinya gajah memakan bermacam pohon beserta daun-daunnya seperti tanaman perdu, rumput-rumputan dan juga memakan buah. Di Kebun Binatang Gembira Loka, Gajah diberi pakan berupa rumput-rumputan, buah.buahan dan juga bekatul yang dicampur sampai rata.












10.  Beruang madu (Helarctos malayanus)
a.       Nama ilmiah                   : Helarctos malayanus
Nama Lokal                   : Beruang Madu
b.      Nama pengambil Data   :
1.      Dhian Prastikawatik           A420 080 034
2.      Leny Dwi Asih                   A420 080 035
3.      Ibnu Affarudin                   A420 080 036
4.      Linda Lestari                      A420 080 037
c.       Gambar             
  
d.      Klasifikasi                                 
Kingdom            : Animalia
Phyllum              : Chordata
Sub phylum        : Vertebrata
Classis                : Mammalia
Sub Classis         : Theria
Super Classis      : Eutheria
Ordo                  : Carnivora
Sub Ordo           : Caniformia
Familia               : Ursidae
Genus                 : Helarctos
Spesies               : Helarctos malayanus



e.       Diskripsi                                    
1)      Habitat
Helarctos malayanus hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian, mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 - 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk membuat sarang. Habitat beruang madu terdapat di daerah hujan tropis Asia Tenggara. Penyebarannya terdapat di pulau Borneo, Sumatera, Indonesia, Cina Selatan, Burma, serta Semenanjung malaya. Oleh karena itulah jenis ini tidak memerlukan masa hibernasi seperti beruang lain yang tinggal di wilayah empat musim. Beruang madu di masa lalu diketahui tersebar hampir di seluruh benua Asia, namun sekarang menjadi semakin jarang akibat kehilangan dan fragmentasi habitat.
2)      Morfologi
Helarctos malayanus mempunyai pola warna tubuhnya pada bagian dorsal dan ventral berwarna hitam sedangkan pectoral berwarna kuning. Ukuran tubuhnya besar dengan glandula mammae yang terletak dibagian pectoral.
3)      Ciri spesifik
Helarctos malayanus termasuk vivipar, melahirkan di sarang yang berbentuk gua atau lubang pepohonan dimana bayi yang terlahir tanpa bulu dan masih sangat lemah dapat bertahan hidup. Bayi akan tetap tinggal di sarang sampai ia mampu berjalan bersama induknya mencari makanan. Bayi beruang madu di duga hidup bersama induknya hingga berusia dua tahun dan kemudian mulai hidup secara mandiri.
4)      Perilaku
Helarctos malayanus aktif di malam hari atau disebut juga dengan makhluk nokturnal, mereka menghabiskan waktu di tanah dan memanjat pepohonan untuk mencari makanan.Kecuali betina dengan anaknya, beruang madu umumnya bersifat soliter. Mereka tidak berhibernasi sebagaimana spesies beruang lainnya karena sumber pakannya tersedia sepanjang tahun. Dalam satu hari seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 km untuk mencari makanannya.Perilaku beruang madu yakni menggali dan membongkar juga bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat penting untuk hutan hujan tropis. Beruang madu juga sangat berperan dalam meregenerasi hutan sebagai penyebar biji buah-buahan, dan terkenal sebagai pemanjat pohon yang ulung. Sifatnya pemalu, hidup penyendiri, aktif di siang hari dengan kebutuhan wilayah jelajah yang luas.
5)      Reproduksi
Helarctos malayanus termasuk vivipar, tidak mernpunyai musirn kawin tetapi perkawinan dilakukan sewaktu-waktu terutama bila beruang madu betina telah siap kawin. Lama bunting 95 sampai 96 hari. anak yang dilahirkan biasanya berjumlah 2 ekor. Anak-anak disusui selama 18 bulan.
6)      Makanan
Helarctos malayanus berdasarkan makanannya mempuyai tipe gigi secodont. Binatang omnivora yang memakan apa saja di hutan. Mereka memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman jenis palem. Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak, setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain.



BAB IV
PEMBAHASAN

Sistematika merupakan salah satu cabang Biologi yang mempelajari keanekaragaman biologi dalam konteks evolusionair, meliputi taksonomi dan filogenetik (menghubungkan klasifikasi dengan filogeni). Selain istilah sistematik, dalam Biologi kita jumpai juga istilah taksonomi (Yunani: takson = jenjang+nomor = hukum, atau aturan) yang dalam artinya cabang Biologi yang membahas tentang pengelompokan makhluk hidup.
Taksonomi merupakan identifikasi dan klasifikasi spesies untuk menyusun organisme dalam kategori yang mencerminkan filogeni. Sedangkan klasifikasi adalah pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan persamaan ciri, cara hidup, tempat hidup, daerah penyebaran, dan genetis atau kegiatan untuk mengelompokkan hewan-hewan berdasarkan atas ciri-ciri yang menggambarkan hubungan kekerabatannya .
Menurut pengelompokkan lama berdasarkan pemilihan nama vertebrae (ruas tulang belakang), hewan dibagi atas : kelompok invertebrata  (in = tidak + vertebrae = ruas tulang belakang) dan kelompok vertebrata (beruas tulang belakang). Vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki tulang belakang mereka umumnya memiki tubuh simetri bilateral, rangka dalam, dan berbagai alat tubuh.
Aves adalah salah satu kelas dari  vertebrata dimana tubuh ditutupi oleh bulu yang diketahui sebagai vosil dari Archeopteryx, pada akhir masa Jur dan menjadi satu-satunya wakil dari anak kelas Archeornithes. Semua burung lainnya (termasuk fosil). Tergolong dalam anak kelas Neornithes. Wakil dari kedua bangsa yang masih hidup adalah Palaeognathae (raties) dan Neognathae. Ciri-ciri yang membedakan antara lain bulu, tulang garpu, kaki depan yang berkembang sebagai sayap. Berkaki dua dan homoetermik, telur bercangkang dan tidak bergigi kecuali pada Archaeopteryx dan dua marga fosil lainnya. Memiliki kulit tepi rahang yang terkornifikasi menjadi paruh yang beragam bentuknya.
Mamalia adalah kelas dari vertebrata yang berasal dari zama Triasik. Bentuk masa kini bercirikan adanya rambut tubuh dan sekresi susu yang biasanya melalui kelenjar susu. Homoioterm, dengan diafragma yang digunakan dalam vertilisasi paru-paru. Rahang bawah terdiri dari sepasang tulang (bergigi). Gigi bertipe heterodon, dan terdapat daun telinga. Pada kelas mamalia terdapat beberapa bangsa yang telah punah.
Praktikum kerja lapangan kali ini dimaksudkan agar praktikan lebih mengenal jenis-jenis aves dan mamalia. Tempat yang digunakan sebagai obyek adalah Kebun Binatang Gembiroluko, Yogyakarta. Praktek ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28 November 2010. Adapun yang diamati adalah hewan yang termasuk ke dalam aves dan mamalia. Dari praktek kerja lapangan kali ini praktikan dapat mengelompokkan jenis-jenis hewan yang tergolong aves dan mamalia. Dari pengelompokkan tersebut, kita dapat mengetahui perbedaan morfologi, ciri spesifik, jenis makanan, perilaku, dan reproduksi antar spesies baik aves atau mamalia.
Dari praktikum lapangan di Kebun Binatang Gembiroluko, Yogyakarta di temukan beberapa spesies Aves dan Mamalia diantaranya kelompok Aves yaitu Pelikan (Pelecanus conspicidatus), Kasuari (Casuaria casuaria), Mambruk (Gaura victoria), Macau (Aca macau), dan Kakatua (Cacatua sulpurea), sedangkan kelompok Mamalia yaitu Banteng (Bos sondaicus), Tapir Brasil (Tapirus terrestris), babi hutan  (Sus scrofa), Rusa Jawa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus munjak), Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris), Zebra (Equus zebra), Unta Punuk Satu (Camelus dromedaries), Gajah Asia (Elephas maximus),Beruang Madu (Helarctos malayanus).
Burung yang kami amati adalah Pelikan (Pelecanus conspicidatus), Kasuari (Casuaria casuaria), Mambruk (Gaura victoria), Macau (Aca macau), dan Kakatua (Cacatua sulpurea).
Aves yang kami amati termasuk ordo pelecaniformes, psittaciformes, dan Columbiformes.
Ordo pelecaniformes mempunyai ciri-ciri lubang hidung sangat mereduksi atau tidak ada sama sekali. Mempunyai kantung leher. Kaki berjari 4 dan berselaput. Paruh panjang dapat membuka leher untuk menangkap dan menelan ikan. Hidup berkoloni. Burung yang termasuk dalam ordo ini adalah Pelikan (Pelecanus conspicidatus).
Ordo Psittaciformes mempunyai ciri-ciri bulu-bulu berwarna hijau, biru, kuning atau hijau. Paruh pendek, sempit, tepinya tajam, ujungnya berkait. Paruh bagian atas bersendi dengan tengkorak sehingga dapat bergerak. Kaki bertipe “zygodactylus” (dua jari ke depan dua jari ke belakang). Jari terluar tidak “reversible” (tidak dapat dibalikka ke depan. Burung yang termasuk dalam ordo adalah Macau (Ara macau) dan Kakatua (Cacatua sulpurea).
Ordo columbiformes mempunyai ciri-ciri paruh pendek dan langsing. Tarsus biasanya lebih pendek dari pada jari-jari.Kulit tebal dan halis. Tembolok besar dan menghasilkan cairan seperti susu (pigeon susu) untuk anaknya. Pemakan biji-bijian (Graminivor) dan buah-buahan (fragivor). Burung yang temasuk  dalam ordo ini adalah Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria) dan Mambruk (Gaura victoria).
Pembuahan sel telur dan sperma atau fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk atau fertilisasi internal. Terdapat sepasang testis, sedangkan ovarium hanya satu dan tumbuh dengan baik disebelah kiri, sesuai rujukan Kardong (2002), menyatakan bahwa ciri utama kelas aves (burung) adalah mempunyai alat penglihatan, alat pendengaran, dan alat suara yang sudah berkembang dengan baik. Dari hewan yang kami amati yang mempunyai suara yang indah dan ada yang dapat menirikan suara manusia dal lainnya adalah burung Kakatua (Cacatua sulpurea). Termasuk hewan berdarah panas ( homoioteral). Jantung terdiri dari 4 ruang, 2 serambi dan 2 bilik yang sudah berkembang dengan baik, ini terdapat pada semua aves yan kami amati.
Burung yang mempunyai warna yang menarik (berwarna-warni) yang kami amati terdapat pada Kasuari (Casuaria casuaria), Mambruk (Gaura victoria), Macau (Aca macau), dan Kakatua (Cacatua sulpurea) atau hitam legam terdapat pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus) tetapi terdapat warna putih pada sebagian tubuh bagian cervik dan sebagian bagian dorsal , yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain yang berfungsi untuk menarik lawan jenis, melabuhi predator dan menyesuaikan pada lingkungannya sesuai dengan rujukan Linaeus (1758), menyatakan bahwa burung memiliki warna dan bentuk yang berbeda-beda, ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain,
Aves ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Burung yang kami amati di Gembiraloka mempunyai paruh yang berkait artinya bila bagian atas lebih panjang serat melengkung menutupi bagian bawah, kadang-kadang dikatakan berkait, bila ujungnya melengkung membentuk bangunan seperti kait. Burung yang kita amati yang mempunyai paruh berkait adalah pada Kakatua (Cacatua sulpurea) dan Macau (Ara macau). Paruh pendek tumpul artinya bila ukuran lebih pendek dari kepala dan agak tumpul. Burung yang kami amati yang mempunyai tipe paruh pendek tumpul adalah pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria). Paruh panjang berkantung dan lurus artnya bila ukuran lebih panjang dari kepala yang mempunyai kantung dan panjang. Burung yang kami amati yang mempunyai paruh panjang berkantung dan lurus pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus). Aves yang kami amati mempunyai bulu menyeluruh (lengkap) artinya yang terdiri atas batang bulu dan lembaran bulu, dimana batang bulu dibedakan atas ccalamus dan rachi. Lembaran bulu tersusun atas deretan barbae terdapat babulae berkait. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya. Burung yang kami amati mempunyai cakar melengkung artinya membentuk agak melengkung terdapat pada Kakatua (Cacatua sulpurea) dan Macau (Ara macau),  tumpul lurus artinya cakar berbentuk tumpul dan agak lurus terdapat pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria), runcing lurus artinya benrbentuk runcing agak lurus terdapat pada Mambruk (Gaura victoria) dan Pelikan (Pelecanus conspicidatus). Bentuk sayap yan kami amati adalah pendek artinya bila bagian itu lebih pendek dari pada badan terdapat pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria), sayap panjang runcing artinya bila ukuran dari benggkokan kedua samapi ke ujung lebih panjang dari pada badan dan agak runcing Kakatua (Cacatua sulpurea) dan Macau (Ara macau), sayap panjang artinya bila ukuran dari benggkokan kedua samapi ke ujung lebih panjang dari pada badan terdapat pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus). Jari yang kami amati rata berjumlah 4 (3 di depan, 1 di belakang) terdapat pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria) dan Mambruk (Gaura victoria), rata berjumlah 4 (2 di depan, 2 di belakang) terdapat pada Kakatua (Cacatua sulpurea) dan Macau (Ara macau), jari rata berselaput bejumlah 4 (3 di depan, 1 di belakang) terdapat pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus). Ekor yang kami amati adalah panjang rata atinya bila ukuran lebih panjang dari badan agak rata terdapat pada Kakatua (Cacatua sulpurea), panjang runcing atinya bila ukuran lebih panjang dari badan agak runcing terdapat pada Macau (Ara macau), pendek artinya bila ukukran lebih pendek atau sama dari pada dengan badan terdapat pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria),  pendek rata artinya bila ukuran lebih pendek atau sama dari pada dengan badan agak rata terdapat pada Mambruk (Gaura victoria), panjang rata artinya bila ukuran lebih panjang dari badan dan agak rata terdapat pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus). Kaki yang kami amati adalah petengger terdapat pada Kakatua (Cacatua sulpurea) dan Macau (Ara macau), kaki pejalan pada Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria), kaki pejalan petengger terdapat pada Mambruk (Gaura victoria), pejalan berselaput terdapat pada Pelikan (Pelecanus conspicidatus).
Dari hewan yang kami amati di Gembiraloka, burung yang tidak dapat terbang adalah Kasuari gelambir dua (Causaria causaria) karena burung ini termasuk dalam jenis kaki pejalan dan pelari sesuai dengan rujukan Kant (2001), menyatakan bahwa walaupun kebanyakan burung mampu terbang terdapat beberapa spesies yang tidak mampu terbang seperti burung unta, rea, emu, kiwi dan penguin yang tidak dapat terbang. Kesemua burung mempunyai sayap walaupun pada burung yang tidak dapat terbang, sungguhpun ia mungkin kecil dan tidak berguna. Burung adalah oviparous yaitu bertelur. Pada kebiasaannya burung betina akan mengeram telur, kadang kala kedua pasangan akan bergilir, dan dalam sesetengah spesies burung hanya burung jantan akan mengeramkan telur tersebut. Terdapat juga spesies burung yang bertelur dalam sarang burung lain untuk dieramkan oleh keluarga burung angkat.
Mamalia yang memiliki satu warna pada rambutnya baik bagian dorsal, ventral ataupun pectoral yaitu Tapir Brazil (Tapirus terrestris) dan Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris. Mamalia yang memiliki warna rambut yang berbeda- beda tiap bagian dorsal, ventral ataupun pectoralnya adalah spesies Banteng (Bos sondaicus), babi hutan  (Sus scrofa), Rusa Jawa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus munjak), Unta Punuk Satu (Camelus dromedaries), Gajah Asia (Elephas maximus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), sedangkan yang memilki pola khusus adalah Zebra (Equus zebra) yaitu garis atau belang  hitam-putih sesuai dengan rujukan Jasin (1989), menyatakan bahwa hampir semua tubuh mamalia tertutup dengan kulit yang berambut banyak atau sedikit. Tubuhnya diisolasi oleh pembungkus (bulu/rambut dan sub cutan yang berlemak). Warna rambut tergantung pada butir- butir pigmen yang terdapat dalam cortex (hitam, coklat, merah, dan kuning). Warna biru disebabkan karena kombinasi efek pigmen dan gejala interferensi sinar dari cortex cuticula. Pada spesies mamalia yang kami identifikasi di Kebun Binatang Gembiroluko ada yang seluruh tubuhnya hanya didominasi oleh satu warna rambut tetapi juga ada yang terdiri dari beberapa warna anatra bagian dorsal, ventral atau pectoral berbeda dan ada pula yang berpola khusus.
Pada spesies mamalia yang kami identifikasi di Kebun Binatang Gembiroluko memiliki glandula mammae yang letaknya berbeda- beda. Spesies yang glandula mammae-nya terletak di bagian pelvis yaitu Banteng (Bos sondaicus), Tapir Brasil (Tapirus terrestris), babi hutan  (Sus scrofa),  Rusa Jawa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus munjak), Zebra (Equus zebra), Unta Punuk Satu (Camelus dromedaries). Spesies yang glandula mammae-nya terletak di bagian abdomen yaitu , Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris) dan Gajah Asia (Elephas maximus), sedangkan yang terletak di pectoral yaitu  Beruang Madu (Helarctos malayanus) sesuai dengan rujukan  Radiopoetra (1996), menyatakan bahwa mamalia adalah hewan yang memiliki glandula mammae yang menghasilkan air susu yang diberikan pada anaknya sebagai minuman pertama setelah lahir. Mamalia juga termasuk manusia atau Homo sapiens. Homo sapiens memilki sepasang glandula mammae dan terdapat pada dinding ventral thorax.
Semua spesies mamalia yang kami identifikasi di Kebun Binatang Gembiroluko memiliki ukuran tubuh yang besar yaitu berat badannya lebih dari 5 Kilogram (Kg).
Contoh hewan dari Ordo Artiodactyla yaitu Rusa Jawa (Cervus timorensis), Banteng (Bos sondaicus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), dan Unta Punuk Satu (Camelus aromedarius) sesuai dengan rujukan Campbell (2003), menyatakan bahwa ordo Artiodactyla merupakan golongan mamalia mempunyai kuku dan jumlah jari kaki yang genap, tiap kaki terdapat 2-4 jari, kaki panjang yang beradaptasi untuk pergerakan yang cepat, jari kaki unguligrade, jari no.3 dan 4 selalu berkembang sama panjang, jari kaki pinggir telah tereduksi, mempunyai perut yang besar dan kompleks dengan 2 atau 4 ruangan, mempunyai sepasang tanduk. Tersebar luas kecuali di Australia dan Selandia Baru, namun sekarang mulai diintroduksikan.
Contoh mamalia yang termasuk ordo Rodentia yaitu Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris) sesuai dengan rujukan Campbell (2003), menyatakan bahwa ordo Rodentia mempunyai ciri-ciri tubuhnya berukuran kecil, mempunyai gigi seri sepasang yang khas berbentuk pahat, besar, kuat, dapat tumbuh terus, makanannya tumbuh-tumbuhan, kaki dengan 5 jari dan bercakar, tidak memiliki taring, dan hidup pada berbagai macam habitat.
Mamalia yang termasuk dalam ordo carnivora ini adalah Beruang Madu (Helarctos malayanus) sesuai dengan rujukan Campbell (2003), menyatakan bahwa ordo Carnivora mempunyai ciri-ciri merupakan hewan pemakan daging yang hidup terrestrial, kakinya berjari 5, kadang-kadang 4 dan bercakar. Taringnya kuat dan tajam, gerahamnya runcing, hewan ini beradaptasi radial, di seluruh dunia kecuali pulau-pulau tertentu yang terletak di tengah samudera. Termasuk dalam Famili Ursidae mempunyai ciri-ciri pendek, kebanyakan dapat memanjat pohon.
Dari ordo Proboscidae ini hanya diwakili oleh satu famili, yaitu famili Elephantidae. Contoh: Gajah Asia (Elepast maximus) sesuai dengan rujukan  Campbell (2003), menyatakan bahwa ordo Proboscidae memiliki 3 gigi seri bagian atas yang tunggal, jika tumbuh terus disebut gading yang berfungsi untuk senjata dan menggali akar serta umbi-umbian. Di setiap belahan rahang memiliki 2 geraham yang besar dengan puncak berlipat-lipat. Belalai (proboscis) merupakan perkembangan dari hidung dan bibir sebelah atas. Kaki berbentuk seperti pilar, herbivore, hidup berkelompok (10-100), berat badan sekitar 300-350 kg dan hidup mencapai 50 tahun.
. Yang termasuk dalam ordo Perissodactyl adalah Zebra (Equus zebra), Tapir Brazil (Tapirus terastris) sesuai dengan rujukan Campbell (2003), menyatakan bahwa ordo Perissodactyl memiliki telapak dengan jari-jari berjumlah ganjil. Berjalan dengan ujung jari (unguligrade), bersifat herbivore, tidak memiliki kantung empedu, kepala umunya bertanduk, kulit berambut jarang dan tebal, penyebarannnya terdapat di Amerika Selatan dan Tengah, Afrika dan Asia Selatan.
Tipe gigi yang kami amati adalah tipe salendont yaitu kebanyakan pada ordo artiodactyla terdapat pada Rusa Jawa (Cervus timorensis), Banteng (Bos sondaicus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), dan Unta Punuk Satu (Camelus aromedarius); tipe secodont terdapat pada carnivora contohnya Beruang Madu (Helarctos malayanus), gigi tipe lophodont kebanyakan terdapat pada herbivore contohnya Zebra (Equus zebra), Tapir Brazil (Tapirus terastris), Gajah Asia (Elepast maximus), Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris).







BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.   Para ilmuwan mengklasifikasikan hewan menjadi dua kelompok besar yaitu hewan bertulang belakang (vertebrata) dan hewan tanpa tulang belakang (invertebrata).
2.   Praktikum kerja lapangan yang kami lakukan di Kebun Binatang Gembira Loka bertujuan untuk mempelajari bagian-bagian luar tubuh Aves dan Mamalia yang penting untuk diidentifikasi.
3.   Aves adalah vertebrata yang dapat terbang karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi anggota gerak anterior terdapat pada semua aves yang kami amati kecuali Kasuari gelambir dua (Casuaria casuaria)
4.   Mamalia adalah hewan yang mempunyai glandula mammae yang biasanya terdapat didaerah pectoral dan disekitar pelvis yang berfungsi untuk menyusui anaknya yang masih muda.
5.   Dalam mengidentifikasi classis Aves dan Mamalia dapat dilakukan dengan mempelajari anatomi kerangkanya maupun morfologinya.
6.   Ciri- ciri Aves yang penting untuk diidentifikasi adalah bulu, paruh, sayap, jari, cakar, kaki dan ekornya.
7.   Ciri- ciri Mamalia yang penting untuk diidentifikasi adalah pola warna, ukuran tubuh dan letak glandula mammae.
8.   Tipe gigi salendont yaitu kebanyakan pada ordo artiodactyla terdapat pada Rusa Jawa (Cervus timorensis), Banteng (Bos sondaicus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), dan Unta Punuk Satu (Camelus aromedarius).
9.   Tipe gigi secodont terdapat pada Beruang Madu (Helarctos malayanus)
10.  Tipe gigi lophodont terdapat pada Zebra (Equus zebra), Tapir Brazil (Tapirus terastris), Gajah Asia (Elepast maximus), Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris).

B.     KRITIK DAN SARAN
1.      Kritik
Dalam PKL ini, ketika kita sudah terjun ke lapangan waktu yang diberikan asisten untuk mengamati objek terlalu cepat dan pengamatan yang kita lakukan kurang cermat, sehingga hasil yang didapatkan kurang optimal. Selain itu, banyak peraturan mengenai cara berpakaian ketika PKL, yang akhirnya membuat kita menjadi merasa tidak nyaman ketika berada di lapangan.
2.      Saran
a)        Sebaiknya waktu untuk pengamatan lebih diperpanjang agar pengamatan objek bisa maksimal.
b)        Untuk PKL SHV tahun depan sebaiknya di tempat atau objek yang lainnya agar tidak monoton seperti halnya tradisi saja dari tahun ke tahun.










DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mochammad Iqbal. 2006. Aves Bulu-Bulu Burung dan Mammalia.
Brotowidjoyo, Mukayat. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Campbell, Neil A. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Hickman, C.P., L. S. Roberts dan A. Larson. 2003. Animal Diversity. North  America. McGraw-Hill Companies, Inc
Jasin, Maskoeri. 1989. Sistematika Hewan (Intervertebrata dan Vertebrata). Surabaya: Sinar Wijaya
Kant, G. C., R. K. Carr.2001. Comparative of the Anatomy Vertebrates Ninth Edition. New York , Mc Graw Hill Companies Inc
Kardong, K.V. 2002. Vertebrates Comparative Anatomy, Function, Evolution. North America, McGraw-Hill. Companies, Inc
Kimbal . 1998 . Biologi 1 . Jakarta: Erlangga

Linaeus. 1758. Burung atau Aves. http://74.125.153.132/search?q=cache: u5RVMf_k_T8J:www.scribd.com/doc/21336302/Aves+aves-burung&cd=13&hl=id&ct=clnk&gl=id&clien=firefox-a. Diakses, Minggu, 22-11-2009. Pukul  10.30
Radiopoetra. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga
Rustaman, Nuryani. 1994. Biologi I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Soemadji, M. S. 1996. Materi Pokok Zoologi. Jakarta: Universitas Terbuka Press                           
Walker .1988. Zoologi Umum. Jakarta : Erlangga




No comments:

Post a Comment

Post a Comment